Friday, December 9, 2016

Kumpulan Hadist Shahih

      Hasil gambar untuk kumpulan hadits

          Barang siapa beribadah pada ALLAH tanpa ilmu.maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada
perbaikan yang dilakukan".(Umar bin Abdul Aziz)

          Rasulullah saw.bersabda: "janganlah kamu mencacimaki penyakit demam ,karena sesungguhnya demam itu akan menghapuskan dosa-dosa anak adam (manusia)sebagaimana api menghilangkan kotoran besi. "
(HR.Muslim ,no.2575)

          "Jangan kamu menjual sesuatu yang tidak engkau miliki." (HR.Daud)

          "Sedangkan surga ,maka tidak ada seorangpun didalamnya yang dizhalimi oleh ALLAH Ta-ala."(HR.Al-Bukhari)

          Rasulullah saw bersabda :"Ridha Allah tergantung pada keridhoan orang tua dan murka Allah tergantun g pada kem urkaan orang tua." (HR.AL-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad no.2 ,Ibnu Habbaan ,no.2026 ,at-tirmidzi no.1899 ,dan al-hakim 1v/151-152)

          "Amal perbuatan dilaporkan pada haari senin dan kamis.Maka aku (Nabi Muhammad saw.)senang jika amalku dilaporkan kepada ALLAH sementara aku sedang berpuasa." (HR.At- tirmidzi)

          "Meludah di dalam Masjid adalah suatu kesalahan, dan kaffarahnya (penghapus dosanya) adalah dengan menimbunnya." (HR.Al-Bukhari ,no.511)

          "Sesungguhnya perbuatan - perbuatan baik itu menghspuskan (dosa )perbuatan - perbuatan yang buruk .(Hud.144) & "Barang siapa yang melakukan kebaikan seberat dzarah pun niscaya dia akan melihat (balas)Nya (Al- ZALZALAH .7)
Hari libur jangan libur berbuat amal.Karena malaikat roqib siap mencatatnya.Tenangkanlah hatimu karena janji ALLAH adalah pasti."

          "Barangsiapa ingin doanya terkabul dan kesulitan -kesulitannya teratasihendaklah dia menolong orang yang dalam kesempitan." (HR.Ahmad)

          "Rasulullah saw bersabda : ' Apabila seorang muslim berwudhu maka keluarlah dosa- dosanya dari penglihatannya,pendengarannya,kedua tangannya dan kedua kakinya.Apabila dia duduk untuk menanti shalat ,ia duduk dalam keadaan diampuni dosa- dosanya." (HR.Ahmad v/252)

          "Jika kau meras a besar periksalah hatimu mungkin ia sedang bengkak.Jika kau merasa suci periksalah jiwamu mungkin putihnya nanah dari luka nurani,Jika kau merasa wangi periksalah ikhlasmu mungkin ada asap dari amal shalih mu yang hangus terbakar riya.

          "Tanda- tanda orang yang bodoh ada 3:
ujub(sombong), banyak berbicara yang tidak ada manfaatnya& mengungkit- ungkit apa yang telah berakhir /berlalu."(Abu Darda)

          "Dan janganlah kamu (merasa) lemah & jangan (pula) bersedih hati,sebab kamu paling tinggi (derajatnya),jika kamu orang beriman".(Ali_Imran=139)

          "Karena bersama kesulitan adad kemudahan"(Al-Insyirah=6)
"Cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu & bagi orang - orang yang beriaman "(Al-Anfal =64)
"Karena hidup adalah harapan.Maka kita perlu bertebaran di muka bumi mencari karuniaNya.Jangan terlalai karena kacamata intan.Karena harapan esokmu adalah mimpi hari ini, harapan agar hidup lebih hidup & jangan takut untuk melangkah dalam kebaikan.Bersemangatlah dalam menggapai apa- apa yang bermanfaat bagimu".(HR.Muslim )

          Dari Aisyah ra. ia berkata :Rasulullah saw bersabda: " Barangsiapa yang mengisi shaff didalam shalat yang kosong,niscaya ALLAH akan mengangkat satu derajatnya & membangunkan sebuah rumah di surga untuknya."(HR.Ath-Thabrani ,11/91)

          "Abdullah bin Amr ra. berkata :Rasulullah saw melarang sholat di kuburan."(HR.Ibnu Hibban no.2319)

          "Rasulullah saw bersabda :Aku melihat kedalam surga ternyata aku melihat tmayoritas penghuninya adalah orang-orang fakir lagi miskin .Dan aku melihat di dalam neraka ternyata aku melihat mayoritas penghuninya adalah kaum wanita."(Muttafaqun alaihi)

          Allah berfirman yang artinya :"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu & kepada surga yang luasnya seluas langit & bumi yang disediakan olrh orang -orang yang bertakwa."(QS.3:133)

          "Orang yang paling berhak mendapat syafaatku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bersholawat kepadaku."(HR.At-Tirmidzi no.484)

          "Rasulullah saw berasbda:Kurma ajwah itu berasal dari syurga dan ia adalah penawar racun."(HR.Ahmad,11/301)

          "Barangsiapa membanggakan dirinya dan bersikap sombong dalam berjalan ,ia akan bertemu ALLAH dalam keadaan murka kepadanya."(HR.Al-hakim ,1/60)

          "Setiap doa terhalang (untuk dikabulkan )hingga bersholawat kepada Nabi Muhammad saw."(HR.Ath-Thabrani lv/448)

          "Rasulullah saw bersabda:tidak akan ditolak doa antara adzan & iqamah."(HR.Ahmad,111/119,155,225)

          "Abdullah bin Umar ra. ia berkata, Rasulullah saw melaknat wanita yang menyambung rambutnya dan yang diminta disambung ,serta melaknat wanita yang mentato tubuhnya dan yang minta di tato."
(HR.Al-Bikhari n0.5937,Muslim, no.2124)

          "Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya ALLAH lebih berbahagia (bergembira)dengan taubaat seseorang yang menemukan kembali barangnya yang telah hilang."(HR.Bukhari.xl/102,no.6308,Muslim.lv/2103,no.2744-2745)

Pandangan Islam Tentang Sahabat

Hasil gambar untuk sahabat

           Tak sedikit kata dalam bahasa Arab yang harus diwakili oleh beberapa kosakata yang berbeda, sekedar untuk mengungkapkan satu buah makna.

vContoh misalnya, kata “kawan”. Setidaknya ada sepuluh varian kata dalam Al-Qur’an yang mengandung makna ragam jenis kawan dalam kehidupan manusia. Sedang dalam bahasa Indonesia, biasanya yang kita hanya kata “teman”, “sahabat”, “karib”, dan “kawan” itu sendiri.

           Diantara hikmah yang bisa digali bahwa persahabatan adalah hal yang penting dalam syariat Islam. Seorang Muslim mesti berhati-hati dalam memilih dengan siapa ia berkawan. Sebab ia bisa memberi pengaruh kepada agama seseorang yang berujung kepada kebahagiaan atau kecelakaan ia di dunia dan di akhirat kelak. Berikut ke-10 kata tersebut;

1. Wali

           Wali adalah teman yang melindungi, penasehat, dan siap membantu kawannya. Seorang kawan yang selalu ada untuk menolong dan memberi petunjuk kapanpun ia dibutuhkan.

Firman Allah:

اللّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُواْ يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوُرِ وَالَّذِينَ كَفَرُواْ أَوْلِيَآؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

           “Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (Surah al-Baqarah [2]: 257).

Allah juga berfirman:
لاَّ يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُوْنِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللّهِ فِي شَيْءٍ إِلاَّ أَن تَتَّقُواْ مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللّهِ الْمَصِيرُ
           “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan hanya kepada Allah kembali.” (Surah Ali Imran [3]: 28).

2. Hamim

           Berasal dari kata kerja ‘ahamma’ yang berarti ‘memanaskan’ atau ‘menghangatkan’.

Allah berfirman;

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

           “…Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik. Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah dia adalah teman yang sangat setia.” (Surah Fushshilat [41]: 34).

           Hamim adalah seorang teman yang hangat. Ia mencintai bahkan punya ikatan secara emosional terhadap kawannya. Sifat teman demikian hendaknya kita punyai. Termasuk jika berhadapan dengan seseorang yang bersikap kasar dan menyakiti hati

3. Shadiq

           Kelak orang-orang yang tersesat meratapi nasibnya pada hari Kiamat; “Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa’at seorangpun dan tidak pula mempunyai teman yang akrab.” (Surah asy-Syu’ara [26]: 99-101).

           Kata shadiq berasal dari kata shidq yang berarti kejujuran. Orang yang jujur adalah teman sejati. Seseorang yang berkawan tanpa ada motif atau niat tertentu. Ia tak akan meninggalkan kawannya hanya karena ia jatuh miskin, misalnya. Saat temannya tersesat, ia justru tampil sebagai pengingat yang lembut. Mengajak agar kembali ke jalan yang lurus. Tipe kawan seperti ini niscaya kekal selamanya, di dunia dan di akhirat.

4. Shahib

           Shahib adalah seseorang yang menyertai kawannya dalam keseharian. Ia bisa jadi tetangga, rekan kuliah, atau teman seperjalanan. Seorang shahib adalah yang bersikap baik kepada Anda. Stay in touch. Punya perhatian agar kawannya senantiasa berbuat baik. Allah menyebut Nabi Muhammad di hadapan Quraisy dengan sebutan shahib.

وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجْنُونٍ

“…Dan tidaklah temanmu (Muhammad) adalah orang yang gila.” (Surah at-Takwir [81]: 22).

5. Walijah

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تُتْرَكُواْ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللّهُ الَّذِينَ جَاهَدُواْ مِنكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُواْ مِن دُونِ اللّهِ وَلاَ رَسُولِهِ وَلاَ الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً وَاللّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

           “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah at-Taubah [9]: 16).

           Kata ini hanya muncul sekali di dalam al-Qur’an. Berasal dari kata kerja “walaja” yang bermakna “memasukinya”. Walijah ialah orang yang benar-benar masuk ke dalam kehidupan pribadi Anda. Seorang terpercaya dalam urusan pribadi sekalipun. Allah melarang orang beriman memiliki jenis hubungan seperti ini dengan orang kafir.

6. Bithanah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ بِطَانَةً مِّن دُونِكُمْ لاَ يَأْلُونَكُمْ خَبَالاً وَدُّواْ مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاء مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِن كُنتُمْ تَعْقِلُونَ

           “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Surah Ali Imran [3]: 118).

           Allah mengisyaratkan berbagi rahasia itu boleh kepada jenis kawan seperti ini. Tapi tidak kepada orang kafir. Kata “bathn” sendiri berarti perut, rongga tubuh manusia yang paling dalam.

7. Khadzul

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنسَانِ خَذُولاً


           “Sesungguhnya Dia telah menyesatkan aku dari peringatan (al-Quran) ketika ia telah datang kepadaku dan adalah syaitan itu teman yang berkhianat kepada manusia. (Surah al-Furqan [25]: 29)

           Ini adalah jenis pertemanan yang fana, penuh kepalsuan. Mereka mengaku sebagai kawan yang paling setia. Nyatanya, ia berpaling ketika ia dibutuhkan. Setan digelari khadzulkarena telah berjanji menjadi teman setia manusia. Ia menjadikan kemaksiatan tampak indah di depan mata. Tapi ia hanya berdusta semata memperdaya syahwat manusia.

8. Khadn

فَانكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ مُحْصَنَاتٍ غَيْرَ مُسَافِحَاتٍ وَلاَ مُتَّخِذَاتِ أَخْدَانٍ فَإِذَا أُحْصِنَّ فَإِنْ أَتَيْنَ بِفَاحِشَةٍ فَعَلَيْهِنَّ نِصْفُ مَا عَلَى الْمُحْصَنَاتِ مِنَ الْعَذَابِ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ الْعَنَتَ مِنْكُمْ وَأَن تَصْبِرُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“…Karena itu nikahilah mereka dengan seizin tuan mereka dan berilah maskawin mereka menurut yang patut, sedang merekapun wanita-wanita yang memelihara diri, bukan pezina dan bukan (pula) wanita-wanita yang mengambil laki-laki hanya sebagai teman mainnya.”(Surah an-Nisa [4]: 25).

           Perkawanan jenis ini termasuk yang dilarang dalam syariat Islam. Allah memerintahkan laki-laki yang beriman untuk menikahi wanita-wanita yang suci dan bukan wanita pengumbar nafsu yang kerjanya hanya memamerkan aurat dan tipu daya terhadap lelaki. Ironisnya, tak sedikit para remaja Muslim terjebak dalam jenis pertemanan ini. Berbagai macam istilah melekat. Sebut saja misalnya, “pacaran Islami” atau “teman tapi mesra”.

9. Qarin

           Qarana berarti “menghubungkan”. Qarin adalah teman yang selalu jalan keluar bareng dengan kawannya. Dia memiliki selera yang sama. Boleh jadi ia juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan tertentu bersama Anda. Menyukai olahraga yang sama atau menikmati siaran TV yang sama.
Dalam surga kelak, seseorang akan mengingat qarin-nya ketika di dunia.

قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ إِنِّي كَانَ لِي قَرِينٌ


“…Berkatalah salah seorang di antara mereka; “Sesungguhnya aku dahulu (di dunia) mempunyai seorang teman” (Surah ash-Shaffat [37]: 51).

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

هُمْ وَأَزْوَاجُهُمْ فِي ظِلَالٍ عَلَى الْأَرَائِكِ مُتَّكِؤُونَ
لَهُمْ فِيهَا فَاكِهَةٌ وَلَهُم مَّا يَدَّعُونَ


“…Ia berkata (pula); “Demi Allah, Sesungguhnya kamu benar-benar hampir mencelakakanku, jikalau bukan karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke dalam neraka). (Surah Yasin [36]: 56-57).

10. Khalil

           Kata “khilal” berarti “menyambung” atau “terus-menerus”. Berarti khalil adalah seseorang yang terus-menerus menyokong kawannya. Posisinya sangat dekat dan menjadikan kawannya merasa bahagia selalu. Tiadanya, menjadikan diri memendam rindu dan selalu memikirkan tentangnya. Inilah pujian sempurna dari Allah kepada Nabi Ibrahim.

وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً


“…Dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya.” (Surah an-Nisa [4]: 125).

           Alhasil, dengan adanya pembagian jenis kawan di atas, sesungguhnya menyisakan pertanyaan selanjutnya. Seperti apa jenis perkawanan kita selama ini? Adakah diri ini termasuk kawan yang terpuji atau justru sebaliknya?*

Maanfaat Membaca Alquran

Hasil gambar untuk al quran

            Apabila membaca atau mendengarkan Alquran, maka dapat bernilai ibadah. Seni membaca Alquran atau tilawatil Quran merupakan memperindah bacaan Alquran yang bertajwid (hukum-hukum bacaan) dengan irama oleh seorang qori’.

             Menurut Anwar (2008), Al-Murottal merupakan kumpulan rekaman bacaan ayat-ayat Alquran dalam pita suara dengan memperhatikan tajwid, menjaga keluarnya huruf-huruf, dan waqaf (tanda berhenti) sebagai upaya untuk menguatkan (tahqiq) kelestarian Alquran, serta menyebarkan Alquran (Nirwana 2014). Alquran memiliki berbagai faedah, termasuk bagi kesehatan sesuai yang ada pada Quran Surah Al-Isra ayat 82, yaitu :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌوَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَلاَ يَزِيْدُ الظَّالِمِيْنَ إِلاَّخَسَارًا

Artinya : “Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi obat (penawar) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS 17: 82).

            Lantunan Alquran secara fisik mengandung unsur suara manusia sebagai instrumen penyembuhan yang menakjubkan dan terjangkau. Suara dapat menurunkan hormon stres, mengaktifkan hormon endorfin alami, meningkatkan rileks, mengalihkan rasa takut, cemas dan tegang, memperbaiki sistem kimia tubuh, sehingga menurunkan tekanan darah serta memperlambat pernafasan, denyut nadi, dan aktivitas gelombang otak (Heru 2008). 

            Alquran merupakan bentuk terapi kecemasan pada lansia. Terapi murottal membantu otak dalam memproduksi zat kimia, yakni neuropeptide yang dapat menguatkan reseptor tubuh dan memberikan umpan balik berupa kenikmatan dan kenyamanan (Indrajati, 2013; Sholikah 2014). Manfaat dari murottal menurut Siswatinah (2011) dalam Indrajati (2013) untuk mendapatkan ketenangan jiwa sesuai Quran Surah Al-A’raf ayat 203 – 204, yakni :

وَإِذَا لَمْ تَأْتِهِم بِـَٔايَةٍ قَالُوا۟ لَوْلَا ٱجْتَبَيْتَهَا ۚ قُلْ إِنَّمَآ أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰٓ إِلَىَّ مِن رَّبِّى ۚ هَٰذَا بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ


Artinya : “Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah: “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS 7 : 203-204).

            Hasil penelitian Uprianingsih (2013) membuktikan bahwa ada penurunan tingkat depresi pada lansia dengan memperdengarkan murottal surah Al-Baqarah (Sholikah 2014). Dalam penelitian lain, Upoyo, Ropi, dan Sitoru (2012) membuktikan bahwa adanya peningkatan nilai GCS pada pasien stroke iskemik melalui pemberian terapi murottal Alquran dengan durasi 30 menit selama 3 hari berturut-turut (Sholikah 2014). 

            Ahmad Al Qadhi, direktur utama Islamic Medicine Institute for Education and Research di Florida, USA dalam Remolda dan Faradisi (2009) pada konferensi tahunan ke XVII Ikatan Dokter Amerika mengungkapkan bahwa mendengarkan bacaan Alquran mempengaruhi arus listrik di otot, sirkulasi darah, detak jantung, dan kadar darah di kulit, sehingga mereksasi atau menurunkan ketegangan saraf dalam mendilatasi (melebarkan) pembuluh darah dan perfusi darah, serta menurunkan frekuensi detak jantung (Pratiwi, Hasneli, and Ernawati 2015).

            Dengan demikian, hendaklah kita memperbanyak membaca dan memaknai Alquran karena terdapat banyak keutamaan dan faedah, seperti meningkatkan derajat kesehatan.

KEDUDUKANNYA AL-QUR’AN DAN HADITS ILMU KEISLAMAN

Hasil gambar untuk al quran

1. Pengertian Etimologi (bahasa)

         Secara bahasa Al-Quran berasal dari bahasa Arab , yaitu qaraa-yaqrau-quraanan yang berarti bacaan. Hal itu dijelaskan sendiri oleh Al-Quran dalam Surah Al-Qiyamah ayat 17-18 :

         “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu”. (QS. Al-Qiyamaah 17-18)

2. Pengertian Al-Quran Terminologi (istilah)

Menurut Manna’ Al-Qhattan :

كَلَامُ اللهِ المُنَزًّلُ عَلَي مُحَمَّدٍ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلْمُتَعَبَدُ بِتِلَاوَتِهِ

Artinya : kitab Allah yang diturnkan kepada Nabi Muhammad SAW dan orang yang membacanya memperoleh pahala.
Menurut Al-Jurjani :

هُوَ اَلْمُنَزَّلُ عَلَى الرَّسُولِ المَكْتُوبِ فِى الْمَصَاحِفِ اَلْمَنْقُولُ عَنْهُ نَقْلًا مُتَوَاتِرًا بِلَا شُبْهَةٍ

“Yang diturunkan kepada Rasulullah SAW., ditulis dalam mushaf, dan diriwayatkan secara mutawattir tanpa keraguan”.
Menurut kalangan pakar ushul fiqh, fiqh, dan bahasa Arab :

كَلَامُ اللهِ المُنَزَّلُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ ص.م اَلْمُعْجِزِ اَلْمُتَعَبَّدُ بِتِلَاوَتِهِ اَلْمَنْقُولُ بِالتَّوَاتُرِ اَلْمَكْتُوبِ فِى اَلْمَصَاحِفِ مِنْ اَوَّلِ سُوْرَةٍ اَلْفَاتِحَةِ اِلَى سُورَةٍ النَّاسِ

         “Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad. Lafadz-lafadznya mengandung mukjizat, membacanya mempunyai ibadah, diturunkan secara mutawattir, dan ditulis pada mushaf, mulai dari awal surat Al-Fatihah sampai pada surat An-Nass”.

         Dari pengertian diatas, ada beberapa bagian yang unsur penting, yaitu :
Al-Quran adalah firman Allah.

         “Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. QS. An-Najm 4Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Quran adalah wahyu (bisikan dalam sukma dan isyarat yang cepat yang bersifat rahasia disampaikan oleh Allah kepada Nabi dan Rasul) yang diturunkan oleh Alla kepada nabi Muhammad SAW.

         Al-Quran adalah mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
Tak satu pun jin dan manusia yang dapat menandinginya, meskipun mereka berkerjasama.
Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. QS. Al-Isra 88
Al-Quran disampaikan secara mutawatir.

         “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. QS. Al-Hijr 9
Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al-Qur’an selama-lamanya.
Membaca Al-Quran bernilai ibadah.

         Nabi bersabda: “Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, laam satu huruf, miim satu huruf dan satu kebaikan nilainya 10 kali lipat” (Al-Hadist).
Al-Quran diturunkan kepada nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril.
Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. QS. An-Nahl 102

Nama-Nama Lain Al-Quran

Hasil gambar untuk al quran

         Selain nama Al-Quran, ada beberapa nama lain dari Al-Quran. Yaitu :
Al-Furqan.

         Al-Quran juga disebut Al-Furqan, yaitu pembeda antara yang hak dan yang batil.
Artinya : “dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan[ Yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. QS. Al-Anfal 41
Al-Burhan.

Artinya ialah bukti yang menunjukkan kebenaran.
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran)”. QS. An-Nisaa 174

Al-Kitab.
Artinya tulisan, buku.
Artinya: Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. QS. Al-Baqarah 2
Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.

Al-Huda.
Artinya petunjuk.
Artinya :” (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)”. QS. Al-Baqarah 185
Adz-Zikir
Artinya pembei peringatan.
Artinya :”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya”. QS. Al-Hijr 9
Al-Mau’idhah
Artinya pelajaran atau nasihat.
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. QS. Yunus 57
Asy-Syifaa
Obat atau penyembuh.
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman”. QS. Yunus 57
Al-Hukm
Peraturan atau hukum.
Artinya : “dan Demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab[776]. dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, Maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah”. QS. Ar-Ra’d 37
Al-Hikmah
Kebijaksanaan.
Artinya : “Itulah sebagian Hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. dan janganlah kamu Mengadakan Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam Keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah)”. QS. Al-Israa’ 39
At-Tanzil
Yang diturunkan.
Artinya : “dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam”, QS. Asy-Syuaraa 192
Ar-Rahmat
Karunia.
Artinya : “dan Sesungguhnya Al qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman”. QS. An-Naml 77
Ar-Ruh
Ruh.
Artinya : “dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. QS. Asy-Syuuraa 52
Al-Bayan
Penerang.
Artinya : “(Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. QS. Ali Imran 138
Al-Kalam
Ucapan atau firman.
Artinya : “dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui”. QS. At-Taubah 6
Al-Busyraa.
Kabar gembira.
Artinya : Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. QS. An-Nahl 102
An-Nur.
Cahaya .
Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran)”. QS. An-Nisaa 174
Al-Bashair
Pedoman .
Artinya : “Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini”. QS. Al-Aljatsiyah 20
Al-Balagh
Penyampaian atau kabar.
Artinya : “(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran”. QS. Ibrahim 52
Al-Qaul
Perkataan .
Artinya : “dan Sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut Perkataan ini (Al Quran) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran”. QS. Al-Qhashash 51

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup memilikibanyak fungsi antara lain :
-Sebagai bukti atas kerasulan Muhammad SAW
-Sebagai pedoman hidup manusia untuk membedakan yang hak dan yang batil (Al-Furqan)
-Sebagai peringatan (Al-Dzikr) manakala manusia lalai dalam menjalankan syariat yang dititahkan Tuhan
-Sebagai pemberi keterangan penjelasan (bayyin) ketika manusia mengalami kebuntuan dalam menghadapi segala persoalan yang dihadapi, dan sebgai petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syariat, dan akhlak.

B. Pengertian Hadits

Hadis atau al-hadits menurut bahasa al-jadid yang artinya sesuatu yang baru – lawan dari al-Qadim (lama) – artinya yang berarti menunjukkan kepada waktu yang dekat atau waktu yang singkat seperti (orang yang baru masuk/memeluk agama islam). 

Hadis juga sering disebut dengan al-khabar yang berarti berita, yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain, sama maknanya dengan hadis. Hadis dengan pengertian khabar sebagaimana tersebut diatas dapat di lihat pada beberapa ayat al-qur’an, seperti QS. Al-Thur (52) : 34, QS. Al-Kahfi (18) : 6, dan QS. Al-Dhuha (93) : 11. Demikian pula dapat dilihat pada hadis berikut

يُو شِكُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَقُولَ هَذَا كِتَابُ أللَّهِ مَا وَجَدْنَا فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ اسْتَحْلَلْنَاهُ وَمَا وَجَدْنَا فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ حَرَّمْنَاهُ أَلاَ مَنْ بَلَغَهُ عَنِّي حَدِيْثٌ فَكَذَبَ بِهِ فَقَدْ كَذَبَ بِهِ ثَلاَثَةً, اللَّهُ وَ رَسُوْلَهُ وَالَّذِي حَدَثَ بِهِ

“Hampir-hampir ada seseorang diantara kamu yang akan mengatakan “ini kitab Allah” apa yang halal didalamnya kami halalkan dan apa yang diharamkan didalamnya kami haramkan. Ketahuilah barang siapa yang sampai kepadanya suatu hadis dariku kemudian dia mendustakannya, berati ia telah mendustakan tiga pihak, yakni Allah, Rasul, dan orang yang menyampaikan hadis tersebut”.

Secara garis besar ada empat makna fungsi penjelasan (bayan) Hadis terhadap Al-Qur’an, yaitu sebagai berikut :
Posisi hadis memperkuat keterangan al-Qur’an (ta’kid).
Hadis sebagai penjelas (bayan) terhadap Al-Qur’an. Penjelasan yang diberikan ada tiga macam, yaitu sebagai berikut:
– Memberi penjelasan secara terperinci pada ayat-ayat al-Qur’an yang bersifat global (tafsil al-mujmal)
– Hadis mengkhususkan ayat-ayat al-Qur’an yang umum (takhshish al-‘amm)
– Membatasi kemut’lakan ayat al-Qur’an (taqyid al-muthlaq)
Hadis mencabang dari pokok dalam al-Qur’an (tafri’ ‘ala al-ashl)
Menciptakan hukum syari’at (tasyri’) yang belum dijelaskan oleh al-Qur’an, disebut bayan tasyri’

Bentuk-Bentuk Hadits

Hadis Qauli : segala yang disandarkan kepada Nabi SAW yang berupa perkataan atau ucapan yang memuat berbagai maksud syara’, peristiwa, dan keadaan, baik yang berkaitan dengan akidah, syari’ah, akhlak, maupun yang lainnya.

Hadis Fi’li : segala yang disandarkan kepada Nabi SAW berupa perbuatannya yang sampai kepada kita.

Hadis Taqriri : segala hadis yang berupa ketetapan Nabi SAW terhadap apa yang datang dari sahabatnya.

Hadis Hammi : hadis yang berupa hasrat Nabi SAW yang belum terealsasikan, seperti halnya hasrat berpuasa tanggal 9 ‘Asyura.

Hadis Ahwali : hadis yang berpa hal ihwal Nabi SAW yang menyangkut keadaan fisik, sifat-sifat dan kepribadiannya.

C. Kedudukan Al-Qir’an dan Hadits dalam Studi Keislaman

Dengan adanya Al-Qur’an, maka muncullah berbagai ilmu pengetahuan Islam. Karena ingin memahami isi kandungan Al-Qur’an, orang menciptakan ilmu Tafsir. Karena ingin mengerti maksud Al-Qur’an, orang bertanya pada Nabi Muhammad. 
Dan ucapan (penjelasan), atau perbuatan Nabi, atau penetapannya menjadi penjelasan maksud Al-Qur’an. Dengan demikian, muncul ilmu Hadis.
 Karena ingin mebaca al-Qur’an dengan benar sesuai dengan kaidah bahasa Arab, muncullah ilmu Nahwu/Sharaf. Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam al-Qur’an, seperti yang dikatakan oleh M. Quraish Shihab, terdapat jiwa ayat-ayat yang mendorong terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu umum atau ilmu-ilmu agama.
-Teologi Islam
-Ilmu Hukum (Fiqh)
-Ilmu Tasawuf
-Filsafat Islam

5 JENIS LAGU DALAM SENI MEMBACA AL-QUR'AN

Hasil gambar untuk Maqom ( lagu ) Shoba

           Lagu-lagu al-Quran semakin berkembang dan terus berjalan selain sebagai cara ibadah dan juga da'wah dan syi'ar. Dengan lantunan keindahan bacaan Al-qur'an yang dilantunkan akan mampu menggetarkan kerasnya hati siapapun yang mendengarkannya.

           Tausyih dalam pembelajaran tilawah hanyalah sebatas acuan acoustics (pengetahuan penyuaraan) dari lagu-lagu arabi, bukan batasan-batasan nada variasi maupun improvisasi yang mengikat. Nada-nada yang ada dalam tausyih atau bait-bait syair dalam gerakan-gerakannya seperti gerakan holpen suara.

           Nada-nada tinggi, sedang dan rendah yang relative panjang dalam kalimat-kalimat pada bait-bait syair juga tetap toleransi pada saat diterapkan pada ayat-ayat al-Quran sesuai kebutuhan yang dituntut oleh pembaca terutama dalam konteks lirik-lirik lagu untuk suatu ayat.

           Alunan intonasi atau membaca yang disuarakan dalam keindahan raga nada, variasi serta ipmrovisasi selaras dengan pesan-pesan yang diungkapkan oleh ayat-ayat yang dibaca.gerakan dalam frekuensi sekali atau dua kali, maupun triller suara yakni gerakan suara dalam frekuensi tiga atau empat kali gerakan tetap toleransi terhadap potensi gerakan suara pembaca.

2. SHOBA

Maqom ( lagu ) Shoba memiliki 4 tingkatan/variasi nada :

• Awal Maqom Shoba
• Asyiron (nawa)
• Ajami (jawab)
• Quflah Bustanjar






3. NAHAWAND

Tingkatan/variasi nada pada Maqom ( lagu ) Nahawand:

• Awal Maqom Nahawand
• Nawa
• Jawab
• Quflah Mahur









4. HIJAZ

Tingkatan/variasi nada pada Maqom ( lagu ) Hijaz:

• Awal Maqom
• Hijaz Kar
• Hijaz Karkur
• Alwan Hijaz






5. ROST

tingkatan/variasi nada pada Maqom ( lagu ) Rost:

• Awal Maqom Rost
• Nawa
• Jawab
• Kuflah Zinjiron
• Syabir Alarrost
• Alwan Rost







6. SIKA

Tingkatan/variasi nada pada Maqom ( lagu ) Sika:

• Awal Maqom
• Iraqi (nawa)
• Turki (jawab)
• Variasi Raml



Definisi Singkat Islam Menurut Bahasa, Istilah, dan Al-Quran

Gambar terkait

            ISLAM sering disalahpahami, khususnya dengan diidentikkan dengan Muslim. Islam dan Muslim adalah dua istilah yang berbeda.

            Islam adalah agama. Muslim adalah pemeluknya. Islam sering diidentikkan dengan perilaku kaum Muslim atau umat Islam.

            Padalah, sebagaimana perilaku penganut agama lainnya, perilaku seorang Muslim belum tentu mencerminkan ajaran atau syariat Islam.

            Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh manusia hingga akhir zaman.


            Islam (Arab: al-islām, الإسلام, "berserah diri kepada Tuhan") adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah SWT.

Dalam Al-Quran, Islam disebut juga Agama Allah atau Dienullah (Arab: دِينِ اللَّهِ).



أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

            "Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri (aslama) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” (QS. Ali Imran [3] : 83).

            Dien (agama) sendiri dalam Al-Quran artinya agama (QS 3:83), ketaatan (QS 16:52), dan ibadah (QS.40:65).

Hasil gambar untuk la ilaha illallah

            Berikut ini ulasan tentang makna, arti, defisi, atau pengertian Islam menurut bahasa, istilah, dan Al-Quran.


Pengertian Islam secara Harfiyah

            Pengertian Islam secara harfiyah artinya damai, selamat, tunduk, dan bersih. Kata Islam terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam), M (mim) yang bermakna dasar “selamat” (Salama).

            Dari pengertian Islam secara bahasa ini, dapat disimpulkan Islam adalah agama yang membawa keselamatan hidup di dunia dan di akhirat (alam kehidupan setelah kematian).

            Islam juga agama yang mengajarkan umatnya atau pemeluknya (kaum Muslim/umat Islam) untuk menebarkan keselamatan dan kedamaian, antara lain tercermin dalam bacaan shalat --sebagai ibadah utama-- yakni ucapan doa keselamatan "Assalamu'alaikum warohmatullah" (السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ الله) --semoga keselamatan dan kasih sayang Allah dilimpahkan kepadamu-- sebagai penutup shalat.


Pengertian Islam Menurut Bahasa

            Pengertian Islam menurut bahasa, kata Islam berasal dari kata aslama yang berakar dari kata salama. Kata Islam merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata aslama ini.

الإسلام مصدر من أسلم يسلم إسلاما


            Ditinjau dari segi bahasanya, yang dikaitkan dengan asal katanya (etimologis), Islam memiliki beberapa pengertian, sebagai berikut:

1. Islam berasal dari kata ‘salm’ (السَّلْم) yang berarti damai atau kedamaian.

Firman Allah SWT dalam Al-Quran:



وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ



            “Dan jika mereka condong kepada perdamaian (lis salm), maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 8:61).


            Kata ‘salm’ dalam ayat di atas memiliki arti damai atau perdamaian. Ini merupakan salah satu makna dan ciri dari Islam, yaitu bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan umatnya untuk cinta damai atau senantiasa memperjuangkan perdamaian, bukan peperangan atau konflik dan kekacauan.


وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ


            "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

(QS. 49 : 9).

            Sebagai salah satu bukti Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian adalah Allah SWT melalui Al-Quran baru mengizinkan atau memperbolehkan kaum Muslimin berperang jika mereka diperangi oleh para musuh-musuhnya.


أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ


            “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. 22 : 39).


2. Islam Berasal dari kata ‘aslama’ (أَسْلَمَ) yang berarti berserah diri atau pasrah.

            Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemeluk Islam merupakan seseorang yang secara ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya hanya kepada Allah SWT.

            Penyerahan diri seperti ini ditandai dengan pelaksanaan terhadap apa yang Allah perintahkan serta menjauhi segala larangan-Nya.


وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا


            “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya (aslama wajhahu) kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (QS. 4 : 125)


            Sebagai seorang muslim, sesungguhnya kita diminta Allah untuk menyerahkan seluruh jiwa dan raga kita hanya kepada-Nya.



            “Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. 6 : 162)


            Karena sesungguhnya jika kita renungkan, bahwa seluruh makhluk Allah baik yang ada di bumi maupun di langit, mereka semua memasrahkan dirinya kepada Allah SWT, dengan mengikuti sunnatullah-Nya.


            “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.” (QS. 3 : 83)

3. Islam Berasal dari kata istaslama–mustaslimun : penyerahan total kepada Allah SWT.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran:


بَلْ هُمُ الْيَوْمَ مُسْتَسْلِمُونَ

“Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.” (QS 37 : 26)

            Makna ini sebenarnya sebagai penguat makna di atas (poin kedua). Seorang Muslim atau pemeluk agama Islam diperintahkan untuk secara total menyerahkan seluruh jiwa dan raga serta harta atau apa pun yang dimiliki hanya kepada Allah SWT.


            "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. 2 : 208).

Masuk Islam secara keseluruhan berarti menyerahkan diri secara total kepada Allah dalam melaksanakan segala yang diperintahkan dan dalam menjauhi segala yang dilarang-Nya. Inilah yang disebut Takwa menuruf definisi yang populer.

Simbol kepasrahan diri kepada Allah SWT antara lain gerakan sujud dalam shalat.

4. Berasal dari kata ‘saliim’ (سَلِيْمٌ) yang berarti bersih dan suci.

إِلَّا مَنْ أَتَى الَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

"Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih" (QS. 26 : 89).


إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ



"(Ingatlah) ketika ia (Ibrahim) datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci." (QS. 37: 84)


            Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang suci dan bersih, yang mampu menjadikan para pemeluknya untuk memiliki kebersihan dan kesucian jiwa yang dapat mengantarkannya pada kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.

5. Islam Berasal dari ‘salam’ (سَلاَمٌ) yang berarti selamat dan sejahtera.


قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا


            "Berkata Ibrahim: 'Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku'." (QS. 19 : 47).


            Maknanya adalah bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa membawa umat manusia pada keselamatan dan kesejahteraan. Karena Islam memberikan kesejahteraan dan juga keselamatan pada setiap insan.

            Pengertian Islam menurut Al-Quran tersebut sudah cukup mengandung pesan bahwa kaum Muslim hendaknya cinta damai, pasrah kepada ketentuan Allah SWT, bersih dan suci dari perbuatan nista, serta dijamin selamat dunia-akhirat jika melaksanakan risalah Islam.

            Lalu, bagaimana jika faktanya banyak pemeluk Islam (Muslim) yang tidak beperilaku sebagaimana digambarkan dalam pengertian Islam di atas? Mudah saja jawabnya: mereka tidak mengamalkan Islam dengan bailk dan benar, dan perilaku mereka tidak identik dengan Islam, karena Islam dan Muslim adalah da hal yang berbeda.


Pengertian Islam Menurut Istilah 

            Menurut istilah, Islam adalah ‘ketundukan seorang hamba kepada wahyu Ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya Muhammad SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai hukum/ aturan Allah SWT yang dapat membimbing umat manusia ke jalan yang lurus, menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat.’

            Secara istilah juga, Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi dan utusan Allah (Rasulullah) terakhir untuk umat manusia, berlaku sepanjang zaman, bersumberkan Al-Quran dan As-Sunnah serta Ijma' Ulama.

1. Islam sebagai Wahyu Ilahi

            Wahyu ialah perintah atau kata-kata Allah (كلام الله) yang disampaikan kepada para rasul-Nya. Nabi Muhammad sebagai salah seorang rasul (pesuruh) Allah Ta'ala juga menerima wahyu yang disampaikan melalui perantaraan malaikat Jibril.


وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (٣) إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (٤) عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى (٥)

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. 53 : 3-4).

Wahyu Allah kini terhimpun semuanya dalam Mushaf Al-Quran, kitab suci Umat Islam, sebagai sumber utama ajaran agama Islam.

2. Diturunkan kepada nabi dan rasul (khususnya Rasulullah SAW)

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri.” (QS. 3 : 84)

3. Islam sebagai Pedoman Hidup.

هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini" (QS. 45 : 20).

Islam adalah jalan hidup (way of life). Al-Quran sebagai sumber utama ajaran Islam menjadi bacaan wajib sekaligus panduan dalam menjalani kehidupan.


4. Mencakup hukum-hukum Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW

            “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. 5 : 49-50)


5. Membimbing manusia ke jalan yang lurus.

Allah SWT berfirman (QS. 6 : 153).


وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


            “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”

Dalam QS Al-Fatihah, umat Islam membaca doa "Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus":


اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ


            Imam Ibnul Jauzi rahimahullah menjelaskan, ada empat perkataan ulama tentang makna jalan lurus (shiratal mustaqim):

            Kitabullah (Al-Quran). Ini merupakan pendapat yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Ali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

            Agama Islam. Ini merupakan pendapat Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Abbas, Al Hasan, dan Abul ‘Aliyah rahimahumullah.

            Jalan petunjuk menuju agama Allah. Ini merupakan pendapat Abu Shalih dari sahabat Ibnu ‘Abbas dan juga pendapat Mujahid rahimahumullah.

            Jalan (menuju) surga. Pendapat ini juga dinukil dari Ibnu ‘Abbas r.a.Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mejelaskan : “Shiratal mustaqim adalah jalan yang jelas dan gamblang yang bisa mengantarkan menuju Allah dan surga-Nya, yaitu dengan mengenal kebenaran serta mengamalkannya” (Taisirul Kariimir Rahman).

Dalil al-Quran Tentang Bayi Tabung


Hasil gambar untuk bayi tabung\


       Al-Isra ayat 36 :

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

       “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya“.

اَلْحَاجَةُ تَنِْزلُ مَنْزِلَةَ الضَّرُوْرَةِ وَالضَّرُوْرَةُ تُبِيْحُ الْمَحْظُوْرَاتِ

       “Hajat (kebutuhan yang sangat penting) diperlakukan seperti dalam keadaan terpaksa. Padahal keadaan darurat/terpaksa itu membolehklan melakukan hal-hal yang terlarang”.

Dalil-dalil Syar’I yang dapat dijadikan sebagai landasan hukumnya adalah

Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 70

2. وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا (17:70)


     Surat At-tin ayat 4

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (95:4)

       Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

       Kedua ayat tersebut menunjukan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang mempunyai kelebihan/keistimewaan sehingga melebihi makhluk-makhluk Allah lainnya. Dan Allah sendiri berkenan memuliakan manusia, maka sudah seharusnya manusia bisa menghormati martabatnya sendiri dan juga menghormati martabat sesama manusia. Dan inseminasi buatan dengan donor itu pada hakikatnya merendahkan harkat martabat manusia (human dignity) sejajar dengan hewan yang diinseminasi.

Hadits Nabi :

لَا يَحِلُّ لِامِْرئٍ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْأَخِرِ أَنْ يَسْقِيَ مَاءَهُ زَرْعَ غَيْرِهِ


       “Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Alloh dan hari akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (vagina istri orang lain). (Hadits Riwayat Abu Daud, Al-Tirmidzi, dan hadits ini dipandang shahih oleh Ibnu Hibban)”

Tafsir Surat An-Nisa ayat 9


Hasil gambar untuk Surat An-Nisa ayat 9

Teks Al-Qur’an dan Terjemahannya :

Surat An-Nisa ayat 9


وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ
وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

          Artinya:“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (an-Nisa’: 9)

Hasil gambar untuk Surat An-Nisa ayat 9


B. Makna Kosakata

          Dan hendaklah takut فَلْسَخْشَ Bila mereka meninggalkan لَوْتَرَكُوْ Anak-anaknya (yang dibelakangnya) خَلْفِهِمْ Dalam keadaan ذُرِّيَّةً Lemah ضِعْفًا Mereka khawatirkan (takutkan) اخَافُوْ Hendaklah mereka bertakwa فَلْيَتَّقُوْ Dan mengucapkan وَلْيَقُوْلُوْاPerkataan قَوْلاَ Yang benar سَدِيْدًا


C. Tafsir Ayat
                           Abu Ja’far berkata: Pendapat yang representatif sebagai tafsir ayat tersebut adalah pendapat yang mengatakan bahwa makna firman Allah tersebut adalah,”Hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang seandainya meraka meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan (anak-anak itu) akan terlantar bila mereka membagikan harta mereka semasa hidup, atau membagikannya sebagai wasiat dari mereka kepada keluarga mereka, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.

           Oleh karena itu, mereka menyimpan harta mereka untuk anak-anak mereka, karena mereka takut anak-anak mereka akan terlantar sepeninggal mereka, di samping (karena kondisi) anak-anak mereka itu (memang) lemah dan tidak mampu memenuhi tuntutan.

           Itulah sebabnya mereka harus memerintahkan orang yang mereka hadiri (maksudnya orang yang akan memberikan wasiat) saat memberikan wasiat untuk kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan yang lainnya agar berlaku adil terhadap hartanya, takut kepada Allah, serta mengatakan perkataan yang benar, yaitu memberitahukan kepada orang yang akan memberikan wasiat tentang apa-apa yang telah Allah bolehkan bagi dirinya, yaitu boleh memberikan wasiat, dan apa-apa yang telah Allah pilihkan untuknya yakni (harus memberikan wasiat tersebut kepada) orang-orang yang beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya dan syariat-syariat-Nya.

          Pendapat tersebut paling representatif sebagai tafsir ayat tersebut daripada beberapa pendapat lainnya, karena alasan yang telah dikemukakan tadi, yaitu bahwa makna firman Allah, مَعْرُوفًا قَوْلًا لَهُمْ وَقُولُوا مِنْهُ قُوهُمْ فَارْزُ وَالْمَسَاكِينُ وَالْيَتَامَى الْقُرْبَى أُولُو الْقِسْمَةَ حَضَرَوَإِذَا”Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik” adalah, “Apabila kerabat, anak yatim, dan orang miskin, hadir sewaktu pembagian (harta), maka berilah mereka bagian dari harta itu.”Makna ini sesuai dengan dalil-dalil yang telah kami kemukakan.

          Apabila makna tersebut merupakan makna bagi firman Allah, حَضَرَ وَإِذَا
وَالْمَسَاكِينُ وَالْيَتَامَى الْقُرْبَى أُولُو الْقِسْمَةَ “Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin...” maka seharusnya firman Allah Ta’ala, ...وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang...” merupakan sebuah pembelajaran dari Allah kepada hamba-hamba-Nya dalam persoalan wasiat, yakni agar disesuaikan dengan ketentuan yang telah Allah izinkan bagi mereka dalam masalah itu, sebab firman Allah,. وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang...” merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya yang berbicara tentang hukum wasiat. 

          Dalam hal ini pendapat atau penafsiran yang telah kami kemukakan merupakan makna yang paling kuat untuk firman Allah tersebut. 

          Dengan demikian, menyamakan hukum yang terkandung dalam firman Allah tersebut (maksudnya walyakhsya...) dengan hukum yang terkandung dalam ayat sebelumnya adalah lebih baik karena makna keduanya hampir sam daripada menyamakan hukum dalam firman Allah tersebut kepada hukum yang terkandung dalam firman Allah yang lain, yang tidak ada kesamaan dalam hal makna.

          Pengertian yang telah dikemukakan sebagai penafsiran firman Allah, “Dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar,” juga dikemukakan oleh orang-orang yang pendapatnya telah disebutkan pada awal penafsiran ayat ini.

          Sebagaimana disebutkan dalam literatur-literatur Islam, memakan harta anak-anak yatim memiliki efek di dunia dan akhirat. Di dunia, ayat ini mengisyarakatkan bahwa kerusakan yang disebabkannya sampai kepada anak keturunan; dan di akhirat, akan ada api neraka ( yang disebutkan dalam ayat berikutnya).

          Makna dari ayat ini mungkin merujuk kepada wasiat-wasiat atau pewarisan yang tidak wajar, bahwa mereka mewarisi atau menghabiskan semua harta yang mereka miliki tanpa memikirkan anak-anak mereka yang masih kecil dan lemah, yang hidup dalam kemiskinan an kemalangan setelah kematian mereka.

          Sekali lagi, ayat ini bisa menjadi sebuah rekomendasi bagi mereka yang memiliki keturunan yang cacat, agar dengan perencanan yang tepat, mereka menjamin masa depan anak-anak (yang cacat) tersebut.


D. Pendidikan Life Skill (Kecakapan Hidup)

          1. Pengertian Pendidikan Life Skill
Menurut Barrie Hopson dan Scally (1981) mengemukakan bahwa kecakapan hidup merupakan pengembangan diri untuk bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang, memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan berhubungan baik secara individu, kelompok maupun melalui sistem dalam menghadapisituasi tertentu.

          Menurut Brolyazin (1989) mengartikan lebih sederhana yaitu bahwa kecakapan hidup merupakan interaksi dari berbagai pengetahuan dan kecakapan sehingga seseorang mampu hidup mandiri.

          Menurut kent davis (2000:1) kecakapan hidup adalah “manual pribadi” bagi tubuh seseorang kecakapan ini membantu peserta didik belajar bagaimana memelihara tubuhnya, tumbuh menjadi dirinya, bekerjasama secara baik dengan orang lain, membuat keputusan yang logis, melindungi dirinya sendiri dan mencapai tujuan di dalam kehidupannya.

          Dari pengertian di atas, dapat diartikan bahwa pendidikan kecakapan hidup merupakan kecakapan-kecakapan yang secara praktis dapat membekali peserta didik dalam mengatasi berbagai macam persoalan hidup dan kehidupan.

           Kecakapan itu menyangkut aspek pengetahuan, sikap yang didalamnya termasuk fisik dan mental, serta kecakapan kejuruan yang berkaitan dengan pengembangan akhlak peserta didik sehingga mampu menghadapi tuntutan dan tantangan hidup dalam kehidupan .


2. Tujuan Pendidikan Life Skill
          Tujuan pendidikan life skill menurut Team Broad Base Education Depdiknas bahwa tujuan pendidikan life skill adalah untuk :
a. Mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi.
b. Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas.
c. Pemanfaatan sumber daya di lingkungan sekolah, dengan memberi peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyarakatr, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.
d. Mengembangkan potensi manusiawi peserta didik menghadapi perannya dimasa mendatang.
e. Membebankan pembelajaran yang fleksibel dan memanfaatkan potensi SDM yang ada di masyarakat dengan prinsip Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).
f. Membekali peserta didik dengan kecakapan hidup debagai pribadi yang mandiri.


3. Korelasi antaran surat An Nisa ayat 9 dengan Pendidikan Life Skill
          Mengutip ayat ini { ذُرّيَّةً ضعافا } “keturunan yang lemah” maka untuk menghilangkan keturuan yang lemah haruslah memiliki kemampuan life skill yang memumpuni. 

          Maka sebagai pendidik harus dapat memberikan kemampuan tersebut sebagaimana perintah tersebut diterangkan dalam surat An-Nisa ayat 9 “Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”.

Popular Posts

 
biz.